Putus "Bahan Bakar" Kejahatan, UNODC Bekali Aparat Indonesia Strategi Canggih Disrupsi Jaringan Scam

JAKARTA, 27 Maret 2026 – Mengambil inspirasi dari pepatah kuno Cicero bahwa "bahan bakar perang adalah dana yang tak terbatas", United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Inggris (British Embassy) menggelar pelatihan intensif untuk melumpuhkan infrastruktur keuangan jaringan penipuan elektronik (scam).

Kegiatan yang berlangsung di Jakarta pada 25-27 Maret 2026 ini menghadirkan kolaborasi strategis antara aparat penegak hukum, lembaga negara, dan sektor swasta. Pelatihan ini dihadiri oleh perwakilan dari Polri, Kejaksaan, PPATK, OJK, Bank Indonesia, serta bank-bank swasta, guna membangun benteng pertahanan nasional yang solid melawan kejahatan transnasional terorganisir.

Menyerang Titik Lemah Kejahatan

Acara ini dipandu langsung oleh Oliver Gadney, Advisor Global Programme Against Money Laundering (GPML) UNODC, yang memiliki pengalaman 13 tahun sebagai polisi di Inggris. Gadney menekankan bahwa meskipun jaringan kriminal sangat gesit, keuangan bukan hanya menjadi kemampuan kritis mereka, tetapi juga kerentanan utama yang bisa dieksploitasi untuk melakukan disrupsi.

Dalam sesi utama, peserta membedah Model Bisnis Kriminal yang terdiri dari empat fungsi utama:

1.  Menggalang (Raise)

Bagaimana pelaku mengumpulkan dana dari korban atau pendonor.

2.  Memindahkan (Move)

Saluran yang digunakan untuk mentransfer uang, baik melalui sistem perbankan maupun penyedia jasa keuangan lainnya.

3.  Menggunakan (Use)

Pengeluaran operasional kelompok kriminal seperti untuk gaji, peralatan, atau dana suap.

4.  Menyimpan (Store)

Bagaimana pelaku kejahatan menyembunyikan aset dalam bentuk properti atau barang berharga lainnya.

Metodologi dan Perangkat Disrupsi Modern

Pelatihan ini tidak hanya diisi teori, tetapi juga membekali peserta dengan Perangkat Disrupsi Keuangan (Financial Disruption Toolkit). Metodologi yang diajarkan meliputi teknik analisis SWOT untuk memetakan kekuatan dan kelemahan musuh, serta kerangka kerja STEMPLES (Social, Technological, Environmental, Military, Political, Legal, Economic, Security) untuk memahami konteks ancaman secara luas.

Peserta dilatih untuk menggunakan berbagai opsi disrupsi, mulai dari tindakan penegakan hukum tradisional seperti penyitaan uang tunai dan pembekuan aset, hingga metode modern seperti penangguhan nama domain (domain suspension) untuk situs web kriminal dan pembatasan perjalanan melalui skema no-fly list.

Siklus Berkelanjutan dan Sinergi Lintas Sektor

"Siklus disrupsi itu seperti mengupas bawang, ia harus dikerjakan secara terus-menerus melalui proses memahami, merencanakan, meninjau, dan kembali memahami," ungkap Olie (panggilan akrab Oliver Gadney) dalam salah satu sesi. Pelatihan ini ditutup dengan sesi berbagi pengalaman antarinstansi, di mana disepakati bahwa keberhasilan pemberantasan scam bergantung pada kemitraan yang kuat antara sektor publik dan swasta.

Melalui penerapan metodologi ini, diharapkan aparat penegak hukum Indonesia dapat mempercepat deteksi dini dan mempersempit ruang gerak serta operasional para pelaku kejahatan scam, sehingga "kejahatan tidak lagi memberikan keuntungan" bagi pelakunya.