PPATK Perkuat Jiwa Bela Negara Lewat Pelatihan APUPPT

Depok — Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terus memperkuat internalisasi nilai-nilai Bela Negara di lingkungan kerja melalui Training of Trainers (TOT) Bela Negara yang diselenggarakan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (Pusdiklat APUPPT) pada Selasa-Kamis, 21–23 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 60 peserta dari internal PPATK, mulai dari level direktur hingga staf dari masing-masing direktorat.

Pelatihan ini merupakan bagian dari langkah strategis PPATK untuk menegaskan bahwa peran dalam rezim Anti Pencucian Uang, Pencegahan Pendanaan Terorisme, dan Pencegahan Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal (APUPPT dan PPPSPM) tidak semata-mata bersifat teknis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya nyata Bela Negara.

Kepala PPATK, Ivan Yustiavandana, menegaskan pentingnya menghadirkan jiwa Bela Negara dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. “Perlu ada jiwa Bela Negara sehingga Indonesia terlindungi,” ujar Ivan.

Menurutnya, Bela Negara bukanlah sekadar simbol atau formalitas, melainkan semangat yang hidup dan tercermin dalam cara berpikir dan sikap setiap insan PPATK. “Bela negara itu vibe, bukan simbolisme terhadap sesuatu, dia adalah vibrasi,” tegasnya.

Ivan berharap nilai-nilai yang diperoleh peserta tidak berhenti pada pelatihan, melainkan terus diwariskan dan menjadi budaya kerja yang berkelanjutan di lingkungan PPATK.

Sementara itu, Kepala Pusdiklat APUPPT, Akhyar Effendi, menyampaikan bahwa pelatihan bagi para trainer ini dirancang untuk memperkuat internalisasi nilai-nilai Bela Negara pada seluruh program pengembangan kompetensi APUPPT. “Pelatihan bagi trainers ini merupakan upaya strategis PPATK untuk memperkuat internalisasi nilai-nilai Bela Negara dalam pelatihan-pelatihan APUPPT, sekaligus mendorong implementasi program APUPPT yang dilandasi oleh jiwa, semangat, dan nilai-nilai cinta tanah air serta nasionalisme yang tinggi,” ujar Akhyar.

Menurutnya, penguatan nilai Bela Negara akan memperkokoh sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi kejahatan keuangan yang semakin kompleks. “Melalui penguatan Bela Negara ini diharapkan power dari seluruh stakeholder rezim APUPPT semakin kuat untuk memahami kejahatan keuangan,” katanya.

Ia menambahkan, Bela Negara dalam konteks APUPPT harus diterjemahkan secara konkret dan implementatif. Setiap pihak yang terlibat harus mampu menempatkan kepentingan bangsa dan negara sebagai pijakan utama dalam menjalankan tugas, baik dalam pengawasan kepatuhan, pelaporan, penyidikan, pemeriksaan perkara, maupun dimensi lainnya sesuai peran masing-masing.

Kegiatan TOT Bela Negara ini memiliki tujuan akhir untuk menyiapkan tenaga pengajar yang mampu menyampaikan materi secara komprehensif, serta mendorong integrasi nilai-nilai Bela Negara ke dalam seluruh materi pelatihan APUPPT agar rezim APUPPT semakin kuat.

Selama 25 jam pelajaran, peserta mendapatkan penguatan pemahaman bahwa ancaman TPPU, TPPT, dan PPPSPM tidak hanya berdampak pada sistem keuangan, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi nasional dan kedaulatan negara. Karena itu, penguatan kapasitas sumber daya manusia yang dibarengi dengan penanaman nilai Bela Negara menjadi elemen penting dalam menjaga ketahanan nasional.

Melalui kegiatan ini, PPATK menegaskan komitmennya untuk terus membangun sumber daya manusia yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memiliki jiwa nasionalisme, integritas, dan kesadaran penuh bahwa menjaga rezim APUPPT adalah bagian dari menjaga Indonesia. (ALF)