PPATK Raih Penghargaan Mitra Kolaborasi Terbaik di Festival Literasi Jakarta 2025

Jakarta - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) meraih penghargaan sebagai Mitra Kolaborasi Terbaik dalam gelaran Festival Literasi Jakarta 2025 yang diselenggarakan di Area Promenade, Taman Ismail Marzuki, Senin (14/10). Penghargaan ini menjadi bukti komitmen PPATK dalam mendukung penguatan budaya literasi sebagai bagian dari upaya pemberantasan tindak pidana pencucian uang (TPPU) di Indonesia.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi (DISPUSIP) DKI Jakarta dan diterima oleh Kepala Pusat Pemberdayaan Kemitraan APUPPT PPATK, Supriadi. Melalui unit Perpustakaan, PPATK secara konsisten menyelenggarakan berbagai kegiatan edukatif yang menyasar baik kalangan internal pegawai maupun masyarakat luas, dengan pesan utama pentingnya literasi untuk membangun integritas dan mencegah kejahatan keuangan.

“Kami percaya bahwa literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi juga tentang membangun kesadaran dan pengetahuan yang utuh dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam memahami risiko dan bahaya dari tindak pidana pencucian uang,” ujar Supriadi.

Festival yang mengusung tema “Komunitas Bergerak, Literasi Tergerak” ini menjadi bagian dari upaya pelestarian koleksi Karya Cetak dan Karya Rekam daerah sesuai amanat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2018 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, serta diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2021. Kegiatan ini melibatkan berbagai komunitas, penerbit, dan institusi, dengan misi yang sama yaitu menjadikan Jakarta sebagai ekosistem literasi yang aktif, inklusif, dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, menyampaikan apresiasi atas kontribusi PPATK sebagai mitra literasi yang telah berperan sebagai penjaga pilar integritas bangsa. “Kami di Dispusip terus menanamkan nilai bahwa bangsa tidak boleh kehilangan ingatannya. Melalui kegiatan literasi, arsip, dan museum, kita menjaga memori kolektif bangsa agar tidak tercecer oleh waktu,” ungkap Djoko.

Ia juga menekankan bahwa ekosistem literasi harus memberi manfaat tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi penerbit dan masyarakat luas. Salah satu contohnya adalah Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang menyimpan lebih dari 150.000 koleksi dan masih dimanfaatkan hingga kini.

Dalam kegiatan ini, selain PPATK empat institusi lain turut menerima penghargaan atas kontribusinya dalam menjalin kolaborasi. Keempat institusi tersebut adalah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Yayasan Lembaga Pemangku Adat Jayakarta, serta Karya Raya BukaBook. Tak hanya itu, penghargaan juga diberikan kepada 10 penerbit terbaik sebagai bentuk apresiasi terhadap peran mereka dalam mendukung literasi.

“Melalui gerakan bersama ini, kita sedang menulis babak baru dalam sejarah literasi Jakarta, sebuah kota global yang terus belajar, merekam, dan berbagi. Setiap bangsa yang besar menulis sejarahnya bukan hanya dalam monumen dan prasasti, tapi juga dalam buku, arsip, dan hati para pembacanya,” pungkas Djoko.

Sebagai institusi yang berperan strategis dalam menjaga integritas keuangan negara, PPATK menyadari bahwa literasi adalah fondasi penting dalam membangun kesadaran kolektif akan bahaya kejahatan keuangan. Ke depan, PPATK akan terus memperluas kolaborasi literasi sebagai bagian dari strategi pencegahan TPPU melalui pendekatan edukatif yang membumi dan berdampak luas.BHS