Bela Negara Tak Perlu Rumit: Dari Bazar Murah hingga Senyum Warga Cimpaeun
Depok, 11 Maret 2026 – Bela negara tak selalu harus dilakukan dengan hal-hal besar. Kadang, ia hadir lewat tindakan sederhana: membantu meringankan beban sesama. Sesuatu yang kecil, namun menyentuh kehidupan orang lain. Semangat itulah yang dilakukan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (Pusdiklat APU PPT), Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), dan Dewan Pengurus Dharma Wanita PPATK.
Dalam suasana bulan Ramadan, digelar bazar kebutuhan sandang dan pangan dengan harga terjangkau, sekaligus menyalurkan bantuan dana dan sembako kepada masyarakat di sekitar Desa Cimpaeun, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, pada Selasa–Rabu, 10–11 Maret 2026.
Bazar sederhana itu berubah menjadi ruang kebahagiaan bagi warga. Ibu Rani (56), warga Cimpaeun yang tinggal tidak jauh dari kompleks Pusdiklat, mengaku selalu menunggu kegiatan ini setiap Ramadan. Dengan wajah ceria, ia menunjukkan beberapa barang yang baru saja dibelinya. “Alhamdulillah, saya dapat pakaian, celana, dan mainan untuk cucu di bazar ini. Harganya murah sekali. Kegiatan seperti ini selalu saya tunggu setiap Ramadan,” kata Rani, ibu rumah tangga dengan tiga anak dan empat cucu.
Di sudut lain bazar, dua orang ibu terlihat asyik memilah kebaya, baju anak, dan sepatu yang tersusun rapi di meja. Suasana menjadi hangat ketika salah satu dari mereka tiba-tiba menghampiri Ibu Endah Ivan Yustiavandana, Ketua Dharma Wanita PPATK. “Bu, sekalian bayarin ya…” celetuknya sambil tertawa. Endah pun tersenyum, lalu menggandeng keduanya menuju meja kasir untuk membayar belanjaan mereka yang nilainya tidak sampai dua ratus ribu rupiah. “Wah, menang banyak ini ibu-ibu. Sudah beli murah, dibayarin lagi,” canda petugas kasir yang disambut gelak tawa warga di sekitar meja pembayaran.
Kepala Pusdiklat APU PPT, Akhyar Effendi, mengaku bahagia melihat antusiasme masyarakat yang datang sejak pagi. Warga tampak sibuk memilih pakaian, sepatu, dan berbagai kebutuhan keluarga dengan wajah penuh kegembiraan.
“Bazar ini adalah aksi sosial sekaligus bentuk bela negara dalam cara yang sederhana. Kami ingin mendekatkan diri dengan saudara-saudara kami yang tinggal di sekitar Pusdiklat,” ujar Akhyar. Ia menambahkan, selama hampir sembilan tahun Pusdiklat APU PPT berdiri di kawasan tersebut, hubungan dengan masyarakat sekitar terjalin sangat baik. “Selama sembilan tahun kami berada di sini, tidak pernah ada gangguan. Masyarakat justru merasa memiliki dan menjaga keberadaan Pusdiklat sebagai aset negara. Itu juga bentuk bela negara yang nyata dari warga,” katanya.
Di tengah hiruk-pikuk bazar Ramadan itu, pesan sederhana terasa kuat: menjaga negara tidak selalu lewat tindakan besar. Kadang cukup dengan saling peduli, saling membantu, dan memastikan tidak ada tetangga yang merasa sendirian menghadapi kesulitan. Dan di Cimpaeun, hari itu, bela negara hadir dalam bentuk yang paling hangat—senyum warga yang pulang membawa harapan.