Riset Doktor Ilmu Ekonomi, Dr. Syahril Ramadhan, Sajikan Strategi Sukses Otomatisasi Pelaporan ESG di Sektor Keuangan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila menggelar Sidang Promosi Doktor Ilmu Ekonomi, Jumat, 29 Agustus 2025. Dalam sidang ini, Direktur Pengawasan Kepatuhan Penyedia Jasa Keuangan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Promovendus Syahril Ramadhan dinyatakan lulus dengan pujian sebagai doktor. Melalui disertasinya yang berjudul “Integrasi Otomasi Proses Bisnis dalam Pelaporan Keberlanjutan di Lembaga Keuangan : Perspektif Model Penerimaan Teknologi dan Teori Difusi Inovasi”, Syahril Ramadhan berhasil menjadi doktor ilmu ekonomi yang ke-187 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.00.
Dalam penelitiannya, ia menyoroti pentingnya Business Process Automation (BPA) dalam pelaporan keberlanjutan (ESG reporting) sektor keuangan Indonesia. Dengan semakin rumitnya regulasi dan tuntutan transparansi, otomatisasi dipandang sebagai suatu solusi strategis untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi laporan. Dalam konteks ESG, otomatisasi melalui BPA menawarkan potensi strategis yaitu meningkatkan kecepatan dan reliabilitas pelaporan, mengurangi risiko kesalahan manual, serta mendukung kepatuhan terhadap standar global maupun kebijakan regulator domestik. Namun, kenyataannya tingkat adopsi BPA di sektor perbankan Indonesia masih tergolong rendah dan bervariasi.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji sekaligus menjelaskan faktor-faktor yang mendorong adopsi BPA dalam pelaporan keberlanjutan. Studi ini menemukan bahwa faktor paling berpengaruh terhadap penerimaan BPA adalah kemudahan uji coba (trialability), bank merasa dapat menguji BPA sebelum penerapan penuh. Mekanisme seperti pilot project (proyek percontohan) dan sandboxing (praktik keamanan siber terisolasi) terbukti membuat organisasi lebih yakin sebelum mengadopsi otomatisasi penuh. Meski demikian, faktor non-teknis seperti regulasi, kesiapan organisasi, dan dukungan kelembagaan tetap menjadi kunci keberhasilan.
Peneliti juga menawarkan kerangka lima tahap adopsi BPA, mulai dari tekanan regulasi, penyesuaian strategi internal, uji coba, pembentukan jaringan aktor dan teknologi, hingga transformasi berkelanjutan. Kerangka ini sekaligus memberikan rekomendasi yaitu bank perlu mengadopsi BPA secara bertahap, pengembang teknologi harus menyediakan solusi modular, dan regulator disarankan menyusun roadmap (peta jalan) kebijakan jangka pendek hingga panjang.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa adopsi BPA dalam pelaporan ESG tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal kolaborasi, strategi adaptif, dan dukungan regulasi yang konsisten. Temuan ini penting untuk mendorong efisiensi, akurasi, dan kepatuhan dalam pelaporan keberlanjutan, sekaligus memberikan panduan strategis bagi institusi keuangan serta pembuat kebijakan dalam mengadopsi teknologi secara optimal. Studi ini diharapkan dapat mempercepat transformasi digital di sektor keuangan yang berorientasi pada keberlanjutan di negara berkembang. Kepala PPATK, Ivan Yustiavandana, menyempatkan hadir dan memberi kata-kata penutup serta memuji bahwa penelitian ini sangat bagus, terutama dalam penerapan rezim anti pencucian uang di Indonesia. (SAF)