07 Agustus 2020, 11:42 WIB
Pengkinian Indikator Transaksi Keuangan Mencurigakan Penyalahgunaan Organisasi Kemasyarakatan dalam Pendanaan Terorisme Untuk Industri Perbankan
Upaya untuk memerangi terorisme di Indonesia tidak terbatas perseorangan namun juga termasuk pada organisasi masyarakat (Ormas) yang ada di Indonesia. Keberadaan Ormas tidak sepenuhnya bebas dari kepentingan pihak-pihak tertentu, pihak-pihak tersebut diantaranya memberikan pendanaan kepada Ormas baik langsung maupun tidak langsung maupun penyalahgunaan oleh pengurus Ormas yang terlibat dalam kegiatan terorisme. Pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu yang ingin mewujudkan kegiatan terorisme melalui penyalahgunaan pendanaan Ormas. Pendanaan dan transfer dana, kelompok atau organisasi terorisme memiliki beberapa ciri umum. Diantaranya, kelompok tersebut lebih banyak menggunakan sistem pembayaran elektronik untuk memindahkan uang ke beberapa negara. Kedua, kelompok terlibat dalam berbagai kegiatan ilegal. Kelompok teroris bekerja sama dengan pelaku kriminal lainnya dalam mengumpulkan dana dan mendapatkan persenjataan. Dalam upaya untuk mencegah dan memberantas penyalahgunaan Ormas/NPO dalam kegiatan terorisme maka penerapan program APU/PPT merupakan kewajiban bagi semua pihak, terutama bagi bank sebagai perusahaan jasa keuangan. Mengingat semakin maraknya praktek pencucian uang termasuk penyelewengan penggunaan rekening untuk menampung pendanaan terorisme, maka diperlukan komitmen dari seluruh pihak dalam mendukung penerapan program APU/PPT. Pelaku kejahatan pendanaan terorisme dewasa ini semakin berkembang dengan memanfaatkan Ormas dalam kegiatan pendanaannya, oleh karena itu bank selalu pengelola dana nasabah harus lebih waspada terhadap kegiatan pendanaan terror dimaksud. Dari hasil riset ini dapat diketahui terdapat beberapa indikator transaksi mencurigakan atas penyalah gunaan ormas/ NPO yang perlu diwaspadai oleh penyedia jasa keuangan bank adalah sebagai berikut: 1. Pengumpulan Dana (collecting) • Keterangan transaksi untuk bantuan negara-negara konflik yang terdapat banyak kegiatan terorisme, diantaranya adalah Suriah, Iran, Ughyur dan berbagai negara lainnya. • Keterangan transaksi untuk infaq aseer keluarga syuhada, keluarga mujahidin, khilafah, syahid dan berbagai kalimat yang mengarah kepada dukungan kegiatan terorisme. • Kegiatan dalam media sosial yayasan/ormas untuk bantuan korban perang didaerah konflik (Suriah dll), mendukung kegiatan khilafah, memberikan bantuan kepada keluarga syuhada, mujahid, aseer syuhada, mendukung para tahanan terorisme. • Rekening NPO menerima aliran dana dari banyak pihak di dalam negeri dengan underlying transaksi “dana untuk bantuan bencana kemanusiaan di luar negeri”. Transaksi ini berpotensi dana yang dikumpulkan lewat sumbangan masyarakat tersebut untuk disimpangkan karena minimnya upaya pengawasan dan pemantauan terhadap pertanggungjawaban penggunaan dana sumbangan tersebut. • Memiliki binaan yayasan lain yang memiliki hubungan dengan yayasan/ organsasi teroris. 2. Perpindahan Dana (moving) • Pada rekening atas nama yayasan, transaksi debit yang banyak terjadi adalah penarikan tunai menggunakan cek dalam jumlah besar oleh pengurus di wilayah yang sama dengan lokasi pendirian Yayasan. • Melakukan layering dengan mentransfer kepada rekening yayasan/ ormas yang sama pada bank yang berbeda dan terus dilakukan berulang. • Melakukan transfer kepada rekening pengurus yayasan/ormas dengan frekuensi yang sering. • Melakukan transfer kepada pihak lain yang tidak terdapat keterangan yang jelas dengan kegiatan amal atau transfer ke daerah yang memiliki risiko tinggi kegiatan terorisme. • NPO melakukan transaksi baik aliran dana masuk dan keluar di daerah rawan pendanaan terorisme, konflik dan separatisme. Transaksi ini berpotensi besar NPO menjadi wadah untuk memfasilitasi kelompok radikal karena didaerah sangat berpotensi pengurus NPO untuk menjadi teradikalisasi. Secara umum transaksi pengeluaran tidak dapat diyakini merupakan transaksi untuk kegiatan amal sebagaimana tujuan yayasan. Adanya ketidaksesuaian antara tujuan pembukaan dengan pola transaksi yang terjadi, semisal lebih banyak transaksi pengambilan tunai menggunakan cek, transfer ke pihak lain tanpa keterangan, tidak ada transaksi yang mengindikasikan transaksi kegiatan amal sebagaimana tujuan yayasan/ormas/NPO. 3. Penggunaan Dana (Using) • Pada rekening atas nama yayasan yang terdaftar, transaksi debit yang banyak terjadi adalah penarikan tunai menggunakan cek dalam jumlah besar oleh pengurus di wilayah yang sama dengan lokasi pendirian Yayasan. • Pembelian valuta asing dengan keterangan untuk investasi maupun tabungan, • Pada rekening atas nama yayasan yang tidak terdaftar, maka menggunakan rekening pribadi yang transaksi debitnya, sebagian besar adalah penarikan tunai menggunakan ATM dalam jumlah maksimal penarikan perhari atau menggunakan slip penarikan tunai oleh pemilik rekening di wilayah yang sama dengan lokasi pendirian Yayasan.

Klik disini Untuk Download Pengkinian Indikator Transaksi Keuangan Mencurigakan Penyalahgunaan Organisasi Kemasyarakatan dalam Pendanaan Terorisme Untuk Industri Perbankan

Tags : PPATK, Laporan Riset